Hari ini hari Jumat ternyata. Chatting sama dia isinya cuman nanya jam dan hari doang nih? Hahaha ga deng.
Tapi ada benarnya juga kok, jetlag banget. Mana jam hp ini ga tau masih jam negara mana. Kayanya sih jam Singapura. Jam tangan juga baru diatur ke waktu Jepang itu ketika di tempat tunggu bus di Bandara. Itu juga nanya dulu ke petugas bisnya, hehehe.
Aku nulis ini lagi di terminal bus Sapporo, basu tei no. 10. Harusnya sih tadi aku naik bis yang jam 14:10, tapi ternyata aku telat. Waktu untuk sampai sini lebih lama dari perkiraan aku sebelumnya. Padahal deket loh!
Ya itu tadi, aku lupa hitung waktu geret-geret koper dan edisi nyasar-nyasar cantiknya.
Tau ga, aku telat berapa lama?
2menit coyyyy. 2 menit berbuah 2 jam.
Ya namanya juga Jepang, kalian pasti tau kalo disiplin waktunya tinggi banget. Telat dikit, bhay!.
Untungnya, masih ada bis yang jam 16:10, jadi aku bisa naik bis itu. Setahu aku sih, bis ke Rusutsu ini sehari cuma ada 2. Kebayang kalo aku ga dapet bis yang selanjutnya?
Harus geret2 koper lagi, untuk nginep di hostel lagi, ongkos lagi dan duit lagi.
Ngomong-ngomong, selama aku ngetik tulisan ini, makin lama tangan aku makin kaku. Dingin bok! Gatau berapa suhu disini. Kurang dari 10° sih sepertinya.
Duduk dingin gini bikin ngantuk.
Eh, barusan aku ngerasa laper lagi. Mungkin energi yang sudah ku tabung dari sarapan beli  ketika nyasar di sevel dekat hostel semalam, sudah lenyap dimakan jalanan.
Ada sih, onigiri yang aku beli di Singapore. Tapi kan dingin. Air minum aja kaya air es.
Jepang terkenal dengan antrinya. Kalo dengan keramahannya, sepertinya Indonesia lebih familiar di mata dunia.
Lihat aja nih antrian naik bis. Dibedakan pakai papan.

Saya menemukan kata-kata ini di salah satu platform di internet. Bagaimana tanggapan saya? Yuk dibaca.

Disagree!! Monggo dibaca kalau berkenan. Tulisan ini bukan untuk memojokkan suatu pihak maupun sumber gambar, hanya bermaksud mengemukakan pendapat, bagi yang kurang sependapat mari diskusikan secara sehat.

Wanita itu harus mandiri, harus kuat. Terlepas dari faktor "laki-laki kan mengayomi", bukankah ada istilah "dibalik lelaki hebat, selalu ada wanita luar biasa dibaliknya", ya bagaimana wanita bisa menguatkan laki-lakinya jika ia tidak kuat untuk dirinya sendiri.  Sometimes, someone's strength is other's weakness, and someone's weakness is other's strength. Karena, siapa yang tahu jika dikemudian hari, kekuatan si wanita inilah yang justru menyelamatkan laki-laki from "his weakness ponit". Katanya untuk saling melengkapi. Melengkapi itu, tidak melulu soal antonim kata seperti "yang kuat melengkapi yang lemah", kan? Wanita yang kuat dan mandiri, pasti bisa melengkapi lelakinya juga, kan? Tidak ada manusia yang sempurna, baik lelaki maupun wanita. Justru saling menguatkan, melengkapi dalam kekuatan.

Lelaki yang kuat tidak akan malas mendatangi wanita kuat. Yang ada, justru meningkatkan kualitas diri untuk mampu mengayomi si wanita kuat tsb. Hanya lelaki lemah-kekuatan dan kuat-egonya lah yang akan menganggap seluruh dirinya tak berguna kalau ayomannya ditolak, seperti pada gambar tsb.

Hampir setiap malam selalu berniat untuk: tidur cepet witttt tidur cepet.
Tapi apalah daya otak ini seperti anak balita yang sedang dalam masa golden age; lagi aktif-aktifnya, katanya. Sulit memang untuk membiasakan diri terhadap suatu hal. Padahal itu untuk kebaikan diri sendiri. Untuk tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, tapi ya sudahlah. Semoga besok-besok bisa membiasakan diri ya. Ga cuman untuk tidur cepet aja, tapi juga hal-hal baik lainnya. Sekarang, mari kita bahas yang sesuai judul tulisan ini.

Cerita yang tidak diceritakan.
Judul ini hampir sama dengan judul blog ini: untold story.
Tadi berchit-chat ria dengan teman, dia menanggapi dengan saran yang bagus. Apa itu?
Ngomong. Cerita.
Dari situ, aku jadi mikir, kapan terakhir kali aku bercerita, berkeluh kesah secara langsung dan tatap muka untuk mengeluarkan unek-unek yang ada dalam dada? Kalau tidak salah ingat, 3 bulan yang lalu, ketika aku melalang-buana di kota kembang, Bandung. Disana, aku kembali menjadi anak kos. Tinggal bersebelahan dengan Sri, temen yang aku anggap temen deket, udah apet kalo bahasa Sundanya yang artinya udah nempel, lengket. Btw, semoga dia juga beranggapan demikian biar anggapanku ga bertepuk sebelah tangan.

Di Bandung, karena aku kembali menjadi anak kosan, ga sulit rasanya untuk menyesuaikan diri. Menjalani hari di tanah rantau yang paling penting adalah: don't be lonely. Udah tau merantau, tapi ga ada temen, pasti rasanya seperti hidup segan mati tak mau. Hehe lebay sih ya.
Tapi mungkin ada benarnya juga. Manusia adalah makhluk sosial kan, manusia membutuhkan tempat untuk bercerita, kata lainnya, butuh tempat sampah untuk mengeluarkan semua sampah di dalam pikiran. Untungnya selama di Bandung, selalu ada telinga yang siap mendengar segala keluh kesah. Mulai dari semrawutnya jalanan kota, duri-duri di pekerjaan, dramanya percintaan, semua ada yang bersedia mendengar. Kebayang ga sih, kalo udah merantau, ga ada keluarga, ga ada orang yang bisa diajak bercerita, bisa gila kali ya. Semua numpuk di kepala. Ujung-ujungnya apa? Seperti kebanyakan yang terjadi di beberapa negara, ya bunuh diri.
Mereka merasa dunia ini tidak adil, tidak ada yang mau mendengarkannya. Padahal jika saja dia bercerita, paling tidak, dia bisa merasa lega. Karena memang seperti itu hakikatnya manusia diciptakan. Untuk ada saling membantu satu sama lain. Walaupun belum tentu bisa menyelesaikan masalah, setidaknya dengan merasa lega, sedikit banyak bisa membuka pikiran untuk mengambil langkah selanjutnya.

Tapi sayangnya, memang ada beberapa kondisi yang membuat seseorang tidak bisa bercerita. Bahkan, dari banyaknya keluhan teman-teman seperjuangan (baca: yang pernah ngekos), mereka mengeluhkan tidak adanya ruang untuk bercerita, untuk memiliki privasi ketika mereka berada di rumah. Fakta yang unik menurut aku, karena rumah yang seharusnya tempat bersemayam segala cerita, justru tidak menyediakan cukup ruang untuk bercerita dan memiliki privasi. Ya, rumah memang banyak yang di-setting untuk keterbukaan antar penghuninya, agar bisa berinteraksi satu sama lain. Bagi mereka yang terbiasa bercerita dirumah, tentu tidak masalah.
Tapi, apa kabarnya dengan sebaguan yang lain? Orang-orang pemilih, yang hanya bercerita pada orang tertentu saja.
Dan untuk bercerita pada orang tertentu ini, bukan berarti harus bertemu dulu kan?
Bayangkan jika di saat-saat genting, harus bertemu dulu untuk bercerita. Bagaimana jika tengah malam? Bagaimana jika sedang sibuk? Sedang diluar kota? Tentu alat komunikasi lah yang bisa menolong untuk bercerita. Dan lagi, dibutuhkan privasi untuk hal ini. Gimana ceritanya tengah malam nangis dirumah dan didengar orang seisi rumah? Bisa dikira kenapa-napa dong ya. Akhirnya apa? Akhirnya, cerita yang seharusnya diceritakan demi kelangsungan kesehatan mental dimasa depan, tidak bisa dicurahkan. Sedih ya.

Dilatarbelakangi hal-hal tersebut, menjadikan banyak orang yang memendam ceritanya. Bagus jika orang tersebut mengeluarkannya melalui tulisan, atau pergi ke karoke untuk bisa teriak-teruak ga jelas. Kalau tidak bisa juga? Ya tetap dipendam, sampai akhirnya lupa. Lupa bahwa dalam hidup pernah mengalami hal-hal luar biasa, baik senang maupun susah, lupa bahwa sebenarnya cerita kita bisa saja menjadi pencerah bagi orang-orang yang mengetahuinya atau membacanya, lupa bahwa dari cerita tersebut lah kita bisa menambah rasa syukur kita terhadap Allah swt akan hari baru yang lebih baik selanjutnya.

Tapi aku bersyukur, dirumah bisa punya privasi yang memungkinkan untuk nangis sesenggukan, ketawa-ketiwi, atau bahkan nangis kejer sekalipun tanpa menginterupsi penghuni rumah yang sedang lelap dalam tidurnya.

Duh, ini tulisan tentang apa sih wit. Acak-acakan banget. Muter-muter dan "ngutara nyelatan". Tapi yaudah deh, toh ini juga bagian dari bercerita.

Makna sabar dan ikhlas itu yang bagaimana?

Ketika kau mendapatkan penghianatan dari orang terpercaya.
Ketika rasa sakit itu menusuk bahkan terasa hingga ke ubun-ubun.

Lemas rasanya. Langkah gontai ku keluar dari ruang penuh harapan di sekolah itu.

Adalah ruang TU. Tempat dimana nama-nama dan data siswa bersemayam di dalamnya.
Ya, inilah dunia. Tak luput dari manusia-manusia berhati mulia, pun yang durhaka kepadaNya.

Ada guru yang dengan senang hati mendengar keluh kesah dan membantu dengan susah payah.
Ada pula yang berdalih menyuruhku menunggu diluar untuk menunggu kedatangan guru A yang dituju.
Detik demi detik, menit demi menit pun jam berlalu begitu saja tanpa adanya panggilan dari yang bersangkutan.
Ku coba melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang itu lagi, ku dapati si ibu sedang asik bertelepon ria tanpa menghiraukanku.
Sakitnya lagi adalah, ternyata si ibu A yang dituju telah ada di dalam, yang tak ku ketahui sudah sejak kapan bercengkrama bersama mereka disana.

Baiklah. Sekali lagi ku ceritakan kronologinya.
Respon manusia sewajarnya: pengandaian. Coba saja waktu itu kau begini begitu dek.

Ku senyumi saja sambil menjawab seadanya, yang lagi-lagi telah ku ulangi lagi jawaban serupa.

Tapi satu yang tak habis pikir, bagaimana seorang guru bisa menyangkut-pautkan musibah kehilangan dengan gelar kesarjanaan.

"Loh, apalagi adik sudah lulus kuliah. Mustinya wawasannya lebih luas lagi, sudah tau kalau baiknya begini begitu bla bla bla."

Ibu, kalau tau akan begini juga ya saya tak akan melakukannya.
Si pelaku ini diklaim terpercaya oleh teman saya. Tapi apa? Musibah tetaplah musibah. Atau, boleh ku perjelas maksud ibu adalah "musibah atas kebodohan seorang sarjana?"

Tenang, aku sudah biasa diperlakukan tak menyenangkan oleh orang. Biarlah itu menjadi pelajaran penguatan hati dan tata krama yang tertanam. Dan masih, sampai sekarang senyuman adalah senjata andalan.

Si ibu yang punya wewenang akhirnya membuka data siswa. Tak didapati nama pelaku sebagai orang tua siswa disana. Ada yang mirip, dikonfirmasikan pada si anak, namun ternyata bukan. Oh Tuhan. Kuatkan hatiku atas kenyataan setiap rasa yang begitu menyakitkan.

Bisa dipastikan hasilnya nihil. Tak berdaya rasanya. Pelupuk mata sudah hampir bocor saja ternyata. Entah sudah berapa pengulangan shalawat dan zikir ku lontarkan sejak pertama ku menginjakkan kaki disana. Entah sudah berapa tarikan nafas ku hela tetap menyesakkan dada. 
Ku salami satu per satu pahlawan tanpa tanda jasa itu, tak lupa ku sematkan doa pada mereka, sebagai ungkapan terima kasih tak hingga atas bantuannya. 

Lemas. Langkah gontai dan rembesan air mata sedikit tersamarkan dibalik bingkai kacamata. Ku keluar dan lagi, dalam pengharapan yang besar, ku tunggu sepeda motor suzuki address biru yang mungkin tiba menjemput anaknya.

Tapi, harapan tetaplah harapan. Terasa percuma namun ku pantang berkata percuma.

Hiruk pikuk, panas, perut kosong, lemas, seakan membawaku dalam tanya.
Apa arti ikhlas sebenarnya?

Judulnya "Ketika Bolang ilang-ilangan". Jangan remehkan wanita bertubuh "mini". Dengan tinggi badan 150an cm, tidak sedikit yang bertanya "Kamu sendiri?". Ku mengangguk tanda jawaban iya. Biasanya juga kemana2 sendiri. "Kamu berani? Ga takut gitu? Kan jauh" tanya mereka -laki2 maupun perempuan- dengan nada tidak percaya dan dahi yang berkerut. "Bukan saya tidak takut, rasa takut itu pasti ada. Mulai dari duduk dengan orang asing (yang berkemungkinan laki2) di bis selama 10 jam, macet yang bikin takut telat check in, belum lagi turun diterminal jakarta untuk lanjut Damri bandara. Terminal yang...hemm isi sendiri lah ya.
Apalagi jika bisnya tidak masuk ke terminal (mungkin dikejar waktu karena sudah terlahap oleh macet sepanjang perjalanan), harus turun menepi dan mencari "orang terpercaya" untuk ditanya dimana letak Damri bandara. Masuklah aku ke Provost sebelah terminal Kp.R, menanyakan pada petugas berseragam loreng yang sedang berjaga di pos. Atas saran beliau, "ojek ke dalam terminal" karena cukup jauh. Ahhh, terima kasih telah dikasih kisaran harganya pak, sehingga tak tertipu dengan patokan harga yang diberikan dengan sangat paripurna itu.
"Gila, itu semua kamu bawa sendiri barangnya?" tanya mereka lagi sambil gemas melihat koper2 dan ransel yg gendut ini. Ku tertawa mengiyakan. Sebuah koper bagasi dengan berat hampir 20kg, sebuah koper kabin dengan berat 6,7kg, ransel yang gendut juga (Alhamdulillah ga ditimbang, bakalan over baggage). Belum lagi menaikkan ransel dan koper kabin ke atas tempat duduk. Tenang, ini semua belum seberapa. Waktu dari Chitose ke Soetta tahun lalu, koper bagasi 23kg, koper kabin (yang beruntungnya tidak ditimbang, arigatou onee-chan) ransel dan alat tempur musim dingin yg harus dilepas setibanya di Soetta. Berat, ya memang berat.
Tapi tenang, semua bisa dilakukan. Jangan remehkan. For you, "mini squads", be brave, be proud of yourself, your body. Kita terlahir dengan segala kelebihan yang kita miliki. 

Ga terasa udah hampir 2 tahun aja sejak gue pergi ke Jepang. 08 Desember 2015. Diawali dengan berangkat dari Purwokerto jam 8 malam menuju Bandung, yang kemudian dari Bandung naik mini bus (atau elf?) ke Bandara Soekarno Hatta. Setiap hal yang aku alami sejak saat itu, rasanya cuman jadi memori terbuang sia-sia kalau ga aku tulis, bagikan, atau minimal menyimpannya dalam tulisan.

Kali-kali aja bisa bermanfaat untuk orang lain, (iye wit, kalo ada yang baca) haha.
Tapi ya setidaknya, tulisan dan TERUTAMA foto-foto disana ga hilang gitu aja.

By the way, tulisan dan foto-foto yang akan ada di postingan tentang Jepang ini, dilatarbelakangi oleh laptop, si Aa, yang saat ini entah dimana. Dan semua foto, dokumen, apapun itu, aku simpen di Aa tanpa ada back up. Jadi, untuk foto-fotonya nanti, akan aku ambil dari sisa-sisa yang "nyantol" di memori handphone.
Yaa hitung-hitung sebagai usaha penyelamatan foto juga sih.

Soal Aa, kok bisa gitu wit?
Ingin cerita tapi kok ya rasanya nyesek ya.
Ya intiny, si Aa, saat ini sedang ditangan sesosok manusia yang entah bertanggung-jawab atau tidak. I get betrayed by someone.

Semoga, Aa baik-baik saja disana, dan bisa kembali lagi dengan sebaik-baiknya keadaan.
Dan semoga, aku bisa 3K: kuat, kontinu, dan konsisten untuk menulis di blog ini.hehehe

See ya!!

Tadi malam di perjalanan pulang, tiba-tiba terlintas dikepalaku tentang suatu hal:

"Hidup untuk apa?"

Ditengah dinginnya angin malam dan deru kendaraan yang berlomba ingin cepat sampai tujuan, berharap dapat bertemu yang dicinta dengan segudang penat dikepala, rasanya agak kurang pas jika justru hal seperti itu yang mengusik konsetrasi berkendara di tengah kota yang katanya wah membahana.

"Hidup untuk mati."

Jawab nuraniku seketika.
Tulisan ini bukan sok menggurui apalagi menceramahi, tapi sepertinya kita hidup di dunia ini semakin hari semakin sulit.
Sulit bukan hanya menggambarkan materi, tapi sesuai arah tulisan ini, sesuatu yang non materi. Suatu hal yang tak bisa dihitung jumlahnya. Hanya bisa dirasa dengan ketentraman dan kedamaian hati.

"Halah, sok banget sih witttt, ngomongnya ga usah yang berat-berat lah. Udah malem nih."
Contoh pengharapan materi berupa bayaran pengganti jam tidur yang berkurang. Oke skip.

Kenapa makin sulit? Padahal di dunia serba modern dan canggih ini semua hal bisa kita dapatkan dengan mudah. Apalagi dengan racun-racun teknologi internet yang luar biasa, semua bisa dengan sekejab mata menjadi mudah dengan ditambah embel-embel "online".
Iya, rasanya tak ada yang sulit lagi dengan kehadiran semua hal "online".
Tak hanya belanja online saja.
Mau makan? Pesan saja layanan ojek online untuk dibelikan makanan.
Mau beres-beres rumah? Bisa. Salon dirumah? Bisa. Sampai bengkel panggilan ketika motor bermasalah dijalan pun bisa ditangani oleh mereka yang bergelut dibidang jasa online ini.

Tapi, dunia yang semakin maju ini sayangnya tidak dibarengi dengan manusianya yang bertambah maju pula.
Ternyata, ungkapan "smart-phone dumb user" tidak salah juga. Banyak orang yang sebenarnya belum siap menerima suatu perubahan, akhirnya ikut-ikutan melakoni trend agar dicap gaul. Muda, tua, sama. Aku pun termasuk di dalamnya.
Seolah hanya dengan satu sentuhan teknologi saja, sudah mampu mencakup semuanya, termasuk: surga.

Lagi-lagi, apa sih esensi dari hidup ini? Bukankah kita hanya hidup sekali. Toh nanti juga mati. Kalau kita sudah tau hidup ini untuk apa, mungkin kita malu. Malu pada Tuhan. Sudah sebegitu baiknya Dia membantu dan menyelamatkan kita dalam hidup ini. Mungkin tadi harusnya kita kelilipan debu, tapi ternyata kita ditolong dengan diturunkannya sedikit hujan untuk membasahi tanah kota yang sudah gersang ulah manusia ini. Mungkin kita harusnya terlambat tiba di tempat kerja, tapi lagi dan lagi Dia menolong kita dengan mengosongkan jalanan yang harusnya padat merayap.

Baik itu pertolongan yang langsung dariNya, ataupun melalui perantara manusia, semua tetap terasa manis ketika kita menerimanya. Lantas? Kita hanya menerima tanpa memberi?
-Maksudnya apa sih wit? Apa yang bisa kita beri?
Kan Tuhan Maha Kaya, pemilik semesta alam.-
Iya iya, memang begitu. Tapi, bukankah dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya itu sudah cukup baik untuk mempersiapkan tujuan hidup kita (mati)?

Ah mungkin iya. Aku masih terlalu bodoh agama. Tapi semoga, sebodoh-bodohnya aku, kalian tak lebih bodoh dari ku ya.
Tetap belajar dan ingat bahwa "Hidup ini untuk Mati".

Beberapa hari ini, saya kembali teracuni untuk menulis blog lagi.
Lagi dan lagi, sebuah keinginan yang (seringnya) tak dibarengi dengan tekad yang kuat.

Rasa malas yang hinggap, melebihi hasrat yang mencuat. Ya, itulah kesulitan saya. Untuk selalu konsisten. Tetap pada jalur, tak mudah bosan.

Hari ini, yang tak sengaja ternyata telah lebih beberapa menit dari pergantian hari, saya menemukan aplikasi blogger ini. Yang mulanya berniat mengakses situs blogger.com ternyata saya disuguhkan dengan hasil pencarian si raksasa internet, google, untuk mengunduh aplikasi ini.

Ya, semoga saja dengan adanya aplikasi blogger, saya bisa konsisten untuk menulis. Hal-hal random tak apalah. Pun dengan kualitas tulisan yang tak seberapa ini.

Mungkin suatu saat kelak, minimal saya sendiri akan membaca cerita disini. Atau, akan saya cekoki anak saya untuk membacanya, biar dia tau bagaimana ibunya dulu.

Ah, mata ini sudah meneteskan airnya.
Sampai jumpa. Semoga selalu bahagia ~

Akhirnya..!!! Setelah pengurusan dokumen yang sangat-sangat ribet, bikin stres dan segala macem.. Akhirnya hari keberangkatan tiba! 
Senin, 07 Desember 2015. Dari pagi udah bikin lapak jualan baju di kamar, pilih-pilih baju untuk dimasukkan ke koper. Harusnya sih malam sebelumnya, tapi sepertinya aku terlalu lelah dan akhirnya kabur ke alam mimpi. Disela-sela buka lapak baju, harus masih ke kampus untuk urusan proposal skripsi yang masih belum selesai. 
Jam 17.00 ah, udah jam segini tapi masih belum selesai. Akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan urusan proposal, dan kembali ke kosan, urus ini-itu yang masih belum selesai. Karena jam 19.00 udah harus standby untuk naik travel ke Bandung. Oke, packing beres. Pamitan. Cawww!!

Bissmillahirrohmanirrohim. Bandung, I'm coming! Oh iya, kenapa ke Bandung? Bukan Jakarta? Jadi, sesuai yang udah direncanakan sebelumnya, aku ke Bandung dulu, tempat Sri -temen yang juga berangkat internship ini-. Dari kontrakan dia, baru deh kita berangkat ke kampusnya untuk berangkat bareng temen-temen dari Bandung ke Bandara Soetta. 

Selasa, 08 Desember 2015. Tangal keberangkatan yang tertulis ditiket.Seneng? Iya. Deg-degan? Banget. Negara seperti apa sih Jepang? Ya, walaupun aku sudah belajar ini itu tentang Jepang, masih belum cukup untuk menutupi rasa deg-deg an ini. Oke, aku dan Sri telat kumpul di kampusnya! Alhasil, dimarahin deh hiks.Tapi bukan masalah, toh emang salah kami sendiri hehee... Jam 12 siang, mobil berangkat menuju Bandara. Sampai Bandara sekitar jam 4. 
Berhubung saya belum nuker uang Rupiah ke Yen, saya harus ke Money Changer dulu. Kebetulan Mirsha juga belum tuker uang. Dan benar. Mahal! Yang seharusnya kursnya cuman 113, di bandara jadi 121. Sedih. Tapi ya mau bagaimana lagi. Pelajaran, lain kali min 1 minggu sebelum keberangkatan harus sudah beli Yen. Oke, nuker uang selesai. Sekarang, nunggu. Jam 18.30, ketemu Pak Bambang untuk memastikan kelengkapan kami seperti tiket pesawat, paspor dan visa, dan hal-hal tentang proses embarkasi. Setelah dikasih wejangan, dan pamitan dengan tiap keluarga dari tim kami yang mengantar -aku sendiri yang ga dianter keluarga atau teman T.T-, kami check in. 

Waduh koper apa kabar ini? Khawatir lebih dari 23kg (kapasitas maksimal bagasi). Dan waktu check in, waw banget. 22,03kg. Oh God! 7 ons lagi itu udah jadi 23kg. Amannnnn.... Untungnya juga, kami check in sistem grup. Jadi, tiket dan paspornya disatuin, bagasinya juga. Oh iya, grup ini maksimal 5 orang, jadi Lingga check in sendiri deh. Dan keuntungan check in grup ini adalah kita bisa share bobot koper. Prima, yang kopernya tembus 25kg, bisa aman karena bisa tertutupi oleh bobot koper teman yang lain. Check in selesai! Tapi proses belum selesai. Masih harus ke embarkasi. Karena penerbangan internasional, huahaha ribet sihhhh.. Walaupun dengan muka polos -karena kami belum ada yang pernah penerbangan internasional-. Setiap datang ke pos-pos baru, tiket sama paspor dan visa selalu standby. Oh iya Ktp juga. Biar kita ga dikira imigran gelap. Setelah proses panjangggg dan ribet ini, akhirnya kita sampai diruang tunggu. Nungguin pesawat sambil kirim-kirim foto ke rumah, biar ortu seneng.. Huehehe.. Maaakkk anakmu ke luar negeri makkk.. Penasaran cerita selanjutnya? lanjut part II ya.. hehehe *iseng*
Assalamualaikum.. ^^ *kalem*
Akhir-akhir ini aktivitas lagi sibuk-sibuknya. Lagi persiapan KKN, jadi banyak banget kegiatannya. Mulai dari pembekalan, kumpul kelompok, sampe survei lokasi yang memakan 2,5 jam - 3 jam sekali jalan (bayangin aja pp nya tuh)
Oya mengenai KKN, nanti bakalan aku bikin postingan tersendiri deh ya. Biar enak bacanya.
Oke balik lagi. Berhubung lagi sibuk-sibuknya, sampe-sampe buka laptop juga ga sempet. Apalagi buat ngeblog T.T

Ya sudahlah, nikamti saja wit *senyum ikhlas*

Well, sesuai dengan judul yang udah dibikin jadi draft postingan ini sejak jauh-jauh hari, baru hari ini sempet buat nulisnya.
Dipostingan ini tentunya aku akan bahas tentang judul blog ini: Untold Stories.

Sebelumnya, mungkin ada beberapa orang yang pernah nyasar ke blog ini. Ada yang berubah dari blog ini, mulai dari template, judul blog, hingga beberapa postingan yang mungkin sudah tidak ada lagi, hehehe.
Kenapa begitu, wit?
Karena, pengen aja gitu setelah 2 tahun lebih meninggalkan blog ini, ada sesuatu yang beda. Dan lebih enak dilihat-dibaca gitu. Mulai dari template, aku sengaja pilih yang sederhana, tapi tetap enak dilihat. Judul blog: Untold Stories.
Ada apa sih dibalik Untold Stories?
Kenapa diubah dari judul sebelumnya: Hidup Adalah Perjuangan?

Untold Stories berawal dari sebuah perjalanan hidup yang semakin mengajarkanku satu hal. Mengenal diri sendiri.
Sebenarnya, tahu apa sih kita tentang diri sendiri? Kadang, kepekaan kita terhadap diri sendiri masih kalah dengan usaha kita untuk menjadi peka terhadap orang lain. Ya, tidak menyalahkan juga memang. Kita hidup bermasyarakat, bersosialisasi dan bertoleransi demi menciptakan sebuah harmonisasi. Tapi hal ini jangan sampai membuat kita lupa akan diri sendiri. Lupa dengan bagaimana diri ini juga minta dikenal, diperhatikan.

Perjalanan hidup seperti apa sih wit yang bisa membuatmu berpikir begitu?
Jadi, setelah semakin menyelami diri, semakin aku mengerti bahwa begitu banyak cerita yang tak diceritakan. Untold Stories.

Ya, bagi sebagian orang yang mengenalku, mungkin ini yang ada dibenak mereka: "tidak bisa diam".
Karena sepertinya, bagi mereka selalu ada saja celotehan yang keluar dari mulutku ini. Iya bener kok. Aku akui itu, hehehe.

Tapi dibalik itu, aku jarang bercerita tentang apa yang aku alami. Banyak hal yang sebenarnya tidak diceritakan.
Nah, dari pikiran-pikiran itulah kemudian mulai berniat aktif nulis lagi deh. Disini. Dan sengaja judul blognya Untold Stories. Biar bisa jadi tempat untuk menampung cerita-cerita yang tak diceritakan tadi. Syukur jika bermanfaat untuk pembaca. Yaa setidaknya bisa jadi rekaman jejak perjalanan hidup. Karena Untold Stories mungkin saja akan selalu menjadi Untold Stories, tapi tidak menutup kemungkinan Untold Stories itu menjadi Written Stories.

If you can't tell it, write it ! :)
Ini apa?
Sebuah rasa?
Sebuah pengharapan?
Ah, sudahlah. Tau apa kau tentang rasa?

Tidak, ini bukan soal cerita romansa seorang anak remaja yang sedang belajar demi mencapai satu kata: dewasa.
Ini lebih dari itu.
Ini rasa dimana kau pasti pernah merasakannya. Saat kau mendapat kabar bahwa kau memperoleh satu diantara bintang, dan kau special. Kau special karena kau yang mendapat kesempatan itu. Kesempatan dimana kau dapat terbang dan memetik bintang. Kesempatan dimana kau dapat melayang diudara melihat teman-temanmu masih dalam wajah polos mereka berharap suatu saat bisa terbang sepertimu. Kesempatan dimana kau dapat terbang setelah kau berhasil menyusun rapat bulu-bulu menjadi sepasang sayap kemudian tertatih belajar mengepakkannya?
Satu hal yang tentu tak kan kau lupa. Kau panggil mereka, orang terdekatmu. Tuk melihatmu terbang dan memetik bintang dengan harapan kau dapat melihat rekahan simpul yang ada di bibir mereka.
Kau salah.
Rasanya hampir saja aku menabrak awan. Awan hitam yang dengan sangarnya dapat menyambarmu dengan tajamnya kilatnya, atau bahkan memborbardirmu dengan dentuman petirnya. Kalau sekedar hujan, tak masalah. Toh ia hanya akan membasahimu dengan siramannya yang bahkan dapat menyamarkan tetes kecil hujan di kedua pipimu
Ku kira, kau mengerti. Tak hanya bulan yang membutuhkan matahari tuk bersinar.bunga pun membutuhkan tangkai tuk tetap berdiri tegak.


Kuliah. Satu kata yang mewakili jenjang pendidikan yang ditempuh setelah sekolah. Sebenarnya, kuliah juga masih di tingkatan sekolah, karena sama-sama menuntut ilmu disebuah institusi resmi. Eh sebentar, "menuntut ilmu"? Salah apa ilmu kok dituntut begitu? Gimana kalau kita ganti jadi mencari ilmu? Toh lebih enak kan. Karena sampai kapanpun kita akan terus belajar kan, mencari ilmu kan.. hehehe *pembelaan*

Nah, kuliah ini ada yang diploma, sarjana, master, hingga doktor.
Tapi, yang lebih umum disebut dengan kuliah adalah mereka yang sedang menempuh pendidikan di jenjang diploma ataupun sarjana.
Berhubung aku saat ini lagi masa-masa kuliah, aku mau bahas tentang Calon Maba.

Kalau biasanya Calon Maba itu identik dengan kepanjangan Calon Mahasiswa Baru, kali ini beda. Calon Maba disini, kepanjangannya adalah Calon Mahasiswa Bangkotan.
Kenapa Calon? 
Karena belum jadi Maba (red: Mahasiswa Bangkotan)
Kenapa Bangkotan?
Karena biasanya lulusnya lama, jadi udah tua gitu.

Sebenarnya, takut juga buat nulis tentang Maba ini di blog. Takut kena batunya!
Tapi ah sudahlah. Ini hanya berbagi. Toh semua sudah ditentukan oleh Sang Penentu Takdir. Yang harus kita lakukan adalah berusaha terbaik. Yang salah satunya adalahhh... SKRIPSINYA DIKERJAIN! *teriak ke diri sendiri*
 Iyalah gimana mau lulus kalo ga dikerjain? kalau ada yang bingung, emang wiwit udah ngerjain skripsi?
Hehe belum kok belum. Baru draft proposalnya. Doakan yaa semoga dilancarkan. Aamiin.

Nah ngomong-ngomong Calon Maba, biasanya udah kuliah disemester akhir kan? Salah satunya ya seperti saya ini.
Mahasiswa semester akhir ini juga ga semuanya mulus kok. Ada yang musti ngulang mata kuliah yang nilainya kurang memuaskan, ada juga yang masih harus mengambil mata kuliah wajib yang belum diambil di semester sebelumnya. Kali ini, aku ga bahas tentang susahnya jadi Maba dll kok. Soalnya aku juga ga ngalamin (jangan sampe).
Yang akan aku bahas adalah persiapan menghadapi semester akhir. Karena sudah jadi Calon Maba. Jadi harus dipersiapkan sedemikian rupa biar ga jadi Maba beneran.
Biasanya, bagi yang udah banyak mengambil mata kuliah di semester sebelumnya, akan merasa kesenangan sekaligus kebingungan menghadapi semester akhir. Kita sebut saja semester 7. Senang? Karena perjuangan kuliah tinggal sedikit lagi brooo.. Mata kuliahnya tinggal sedikit dan tinggal ngerjain 1 hal sederhana yang luar biasa: skripsi.
Bingung? Karena kuliah yang tinggal sedikit itu, membuat mahasiswa merasa terlalu banyak waktu luang yang bingung akan dipakai untuk apa, selain ngerjain skripsi tentunya. Tapi kalau ngerjain skripsi terus bosen lah ya, capek. Makanya, mahasiswa yang ada di level ini lumayan bingung untuk menghabiskan waktu yang biasanya diisi dengan kuliah dan organisasi. Apalagi anak kos, biasanya jadi kebanyakan main. Dan alhasil: pengeluaran membengkak!

So, ini dia hal-hal yang bisa dilakukan di semester 7 selain skripsi.
  1. Berwirausaha
  2. Menyalurkan hobi
  3. Eksplor tempat baru
  4. Cari potensi diri (lagi)
  5. Kerja 
  6. Membaca-Menulis
Untuk mempermudah melakukan hal-hal diatas, kita bisa kok bikin to do list di semester tersebut. Terus ditempel deh di kamar. Kan cucok!!

Sebenernya, mau ngejelasin satu per satu poin-poinnya. Tapi apa daya, besok ujian 2 mata kuliah dan salah satunya adalah presentasi draft proposal penelitian yang udah aku bikin. Nanti aku lanjut di postingan selanjutnya aja yaa..
Terima Kasih ^^

Bersambung..
Ceritanya, tadi buka puasa bersamanya ditunda dulu nemenin temen yang masih jualan takjil di lapak usdan. Setelah dapet pinjeman motor *jujur amat* kami bertiga segera cusss ke salah satu tempat makan lele yang sudah menjamur di banyak kota di Indonesia. Kenapa lele ? Soalnya aku lagi pengen banget makan lele saus padangnya yang enakkkk.... *nelen liur*

Selesai makan, ke kos temen, dan ritual girl-talk pun dimulai. Ya.. tau sendirilah bagaimana jika dua orang anak gadis sedang melakukan ritual itu. Apa aja bisa dibahas.
Okee.. kita lanjut. Tapi bukan hal-hal diatas yang mau dibahas kali ini.


Ini nih yang akan kita bahas kali ini. Tadi sepulang dari kos temen, aku mampir warung samping kosan buat beli "sajen" yang bisa menyuplai kebutuhan selama belajar UAS. Eh ada si coklat kacamata. Yaudah deh aku ambil. Terus, di sebelahnya ada Cha-Cha. Wah pas banget pikirku. Aku bisa menyandingkan mereka berdua didalam blog ini. Lumayan lah, review-review sedikit tentang makanan kan ya..
Cha-cha dan Coklat kacamata

Masih ingat jajanan yang dibawah bentuknya kacamata? Yup benar, itu jajanan yang sangat dikenal dikalangan anak-anak yang lahir di era 90'an.
Sedangkan yang satunya? Cha-Cha. Lebih modern sih ya, jadi mungkin lebih duluan si coklat kacamata ya terkenalnya.
Nah. Apa sih yang membedakan dari kedua coklat ini?
Yoo kita mulai!!!

Cha-Cha Vs. Coklat kacamata (maafkan atas penamaan yang tak jelas ini)


  1. Kemasan
    Dari segi kemasan, kedua coklat kancing/butiran ini memiliki cara masing-masing dalam mengemas produknya. 
    Si Cha-Cha, sudah menggunakan kemasan yang modern, bisa dibuktikan dari kemasannya yang menggunakan plastik dengan packaging design yang modern.
    Sedangkan coklat kacamata, masih konsisten dengan kemasannya yang berbentuk kacamata, ataupun ada juga beberapa yang berbentuk angka 8.
  2. Isi
    Perbandingan isi

    Nah ini dia perbedaan selanjutnya yang bisa dilihat *setelah dibuka loh yaa* dari kedua makanan yang imut ini. Ukuran butiran coklat kacamata lebih kecil dari pada ukuran butiran Cha-Cha. Jumlahnya pun berbeda. Jika Cha-cha memiliki butiran coklat yang lebih besar, tapi isinya cuman ada 9 butir *sedih*. Sedangkan Coklat kacamata, berhubung ukuran butirannya lebih kecil, jadinya isinya lebih banyak deh. 12 butir! Lumayan bagi anak kos yang sangat memperhatikan kuantitas nih. (Wong kalo harga beda Rp 500 aja udah mikir keras buat ngeluarin uang) hahaha.
  3. Rasa
    Kalau tadi kita bicara tentang jumlah a.k.a kuantitas, sekarang kita bahas rasa. Yaa memang sih rasa suatu makanan itu berbeda menurut masing-masing lidah. Tapi karena ini reviewnya aku yang bikin, rasanya menurut lidah aku loh ya! *maksa*. Untuk rasa, aku sih lebih suka yang Cha-cha dari pada si coklat kacamata. Cha-cha lebih berasa gitu coklatnya. Mungkin karena ukuran butirannya lebih besar kali ya. Tapi kalau coklat kacamata, rasa coklatnya kurang. Dan masih ada sisa-sisa rasa butter gitu setelah makan coklatnya.
  4. Harga
    Wah, udah bahas tentang harga aja nih. Tenang-tenang, karena ini review untuk menyandingkan kedua belah pihak yang terjebak dalam butiran coklat (bukan terjebak dalam butiran masa lalu loh ya), aku sengaja pilih harganya yang sama. Untuk Cha-cha ukuran kecil itu (lupa catet berapa gram) harganya Rp 500. Si coklat kacamata juga harganya sama, Rp 500. Jadi yaa murah lah ya untuk icip-icip dengan harga segitu (tapi ga puas makannya T.T)
  5. Fungsi
    Selain dari 4 hal diatas, ada satu hal lagi yang harus dibahas kalo udah bawa-bawa si coklat kacamata. Tapi sayang, Cha-Cha ga memiliki yang satu ini. Apa itu? Fungsi. Yap benar! Apalagi kalo bukan untuk dipakai sebagai kacamata. kan lumayan tuh buat mainan sama temen. Atau sekedar untuk narsis dan berselfie ria. Tapi lebih dari itu, fungsinya adalah sebagai kacamatan untuk mengenang kenangan masa lalu. Masa dimana kita bangga dengan mainan-mainan sederhana seperti kacamata ini, bukan pamer-pameran gadget baru atau sibuk dengan game dan chat di media sosial seperti sekarang ini. Yuk mulai dari sekarang kita lestarikan mainan sederhana yang keberadaannya semakin tergerus zaman.
Setiap masa memiliki kenangannya tersendiri. Jangan pernah mencoba mengubahnya, atau bahkan menghapusnya. Tapi biarkan ia membentuk butiran demi butiran, yang akan mengisi toples kehidupan. Hingga suatu masa butiran itu sampai pada butiran terakhir, biarkan ia tetap utuh.

Sekian ^.^


Pertama kali login blog dan bikin postingan via handphone. 
Yeyeye!! Harus dirayakan nih *tiup terompet*. 
Tapi kok ga ketemu enter ya? Lah priwe? Yaudah deh nanti di edit lagi di laptop *teteup*. 

Oke, hari ini mau posting tulisan yang sudah lama ada di kepala. Begini kata-katanya: 
"Apa aja sih yang akan diposting, wit?" 
Jadi begindang. Rencananya, aku akan bikin postingan yang menceritakan banyak hal tsaahhh.. Mulai dari keseharian yang mungkin ga penting, review: review makanan, produk kosmetik *kalo punya*, atau sekedar review hal-hal yang tidak direncanakan sebelumnya. Selain itu, akan ada juga tulisan tentang perjalanan. Yup! Travelling bro.. Jalan-jalan. Mulai dari tempat wisata, sampai ke tempat-tempat absurd yang bikin kaki gempor tapi tetep seneng. 

*Ignore my face*
Yooo!! Baiklah, mari kita bahas satu per satu kenapa aku memilih hal-hal itu untuk aku tulis disini. Yang pertama: keseharian. Duh kok kesannya kurang penting banget gitu ya? Tapi justru disitulah esensinya. Aku akan belajar untuk mengangkat hal-hal yang tidak penting menjadi sesuatu yang terlihat oleh mata. Karena nih ya, terkadang justru kita banyak belajar dari hal-hal kecil yang awalnya kita anggap gak penting. Nah selain itu, mungkin ada juga cerita dari apa yang aku alami dalam suatu hari bisa menginspirasi orang lain. Cieileee.. "Learn from unsee thing" Apa pula itu bahasa Inggrisnya *tepok jidat*. Ya begitulah, belajar dari hal-hal yang tidak terlihat. Karena belajar dari hal-hal terlihat udah terlalu mainstream brooo.. hahaha. 

Oke lanjut yang kedua. Review. Kenapa review? Karena sebagai manusia, kan kita banyak memakai makanan dan memakan produk. Eh kebalik! Maksudnya memakai produk dan memakan makanan. *maafkan bahasa Indonesia saya pemirsah*. Nah sayang dong kalo cuma lewat-lewat aja itu mommentnya. Mending ditulis, kali aja suatu saat ingin mengingat-ingat masa lalu *eh mengingat produk/makanannya maksudnya. Jadi tinggal dilihat deh postingannya. 

Dan yang ketiga sekaligus paling disuka. Travelling!! Iya, jalan-jalan kesana kesini gitu. Jadi ceritanya sekarang Wiwit-seorang adis yang beranjak dewasa- ini udah mulai suka ngebolang. Ngebolang, travelling, jalan-jalan, backpacker, atau apapun penyebutannya, intinya sebuah perjalanan. Kadang memang perjalanan yang direncanakan, kadang juga perjalanan iseng! Iyalah iseng, wong tiba-tiba pergi dadakan gitu. Tapi jangan khawatir, walaupun dadakan, kita harus membuat perjalanan itu menjadi luar biasa menyenangkan!! Oh iya, nanti.juga ada tips travelling berdasarkan pengalaman pribadi loh! Maapkeun jika tipsnya rada absurd yaa.hahaha. Soalnya kan berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi ya kadang keluar inovasi-inovasi terbaru yang mungkin ga kalah menariknya sama inovasi para insinyur.

Oke sekian dulu, sementara ini sih baru kepikiran 3 hal itu yang mau ditulis di blog. Jadi, keep reading and enjoy your day!! Thank you!! ^^
Assalamualaikum..

Welcome Back !!
Selamat datang lagi di blog ini ^^
Sebenarnya, ga ada pikiran untuk melanjutkan menulis di blog ini lagi. Karena.. ya gitu, suka lupa kalo punya blog hehehe

Saat lagi nulis


Tapi, semakin hari berganti, semakin bertambah usia, semakin banyak juga hal-hal yang telah aku lewati. Dari hal biasa sampai hal aneh yang kadang lucu juga kalau diingat-ingat. Nah kan sayang tuh kalau hal-hal seperti itu lewat begitu aja tanpa aja catatan yang bisa dibaca di hari-hari kemudian. Jadinya, aku pengen ngeblog lagi deh. Menuliskan cerita baru maupun lama, yang nantinya akan menjadi cerita tersendiri yang bisa ku baca bersama anak dan cucu *sweet*

Hal lain yang membuat aku pengen ngeblog lagi sih, karena dapet ilham gitu *tsaahhhh..
Berawal dari ucapan seorang teman yang sedikit menyindir, kurang lebih begini "gimana bisa membuka isi handphone-mu? Handphone aja dua-duanya pakai keamanan tingkat tinggi gitu".
Lumayan jleb juga sih memang, tapi benar juga. Aku memang tak mengijinkan siapapun untuk menggunakan handphoneku, yang walaupun didalamnya juga ga ada apa-apanya. hehe *peace*
Nah dari situlah, banyak catatan-catatan rahasia harian yang kadang aku tulis begitu saja di handphone. Aku juga bukan tipe anak gadis yang suka berbagi cerita aka curhat ke teman-temanku, makanya catatan handphone-lah yang jadi sasarannya.

Terus, suatu saat aku sedang makan siang bersama salah satu temanku disebuah tempat makan rahasia kami.. *evilface* Aku mendapat ilham dari kata-kataku sendiri "kayaknya, orang yang tau kisah hidupku cuman aku sendiri deh". Dan oops! Itu menjadi sebuah bumerang juga loh ternyata.
"Bagaimana aku bisa dikenang jika aku sendiri tak membagikan ceritaku pada orang lain? Bagaimana bisa aku menyebarkan kebaikan jika aku sendiri tak mengajarkan bagaimana mengukir sejarah diri yang baik? Tak usah jauh-jauh ke orang banyak, ke satu generasi dibawahmu saja, bagaimana bisa ?"

Ah, kata-kata itu membayang di kepalaku.  Dan akhirnya aku memutuskan untuk menulis lagi deh.
Masih belajar menulis kok. Jadi masih banyak kekurangan.

Selamat membaca.. Salam..